Sunday, December 29, 2013

Terlalu Indah

10 April 2012

Kita harus menerima bahwa memang tak ada kisah yang bisa sempurna
Seperti yang slalu diimpikan dan mimpi tak slalu jadi kenyataan
Ada awal dan ada akhirnya yang mungkin tak dapat terurai semua
Ada duka ada bahagia yang mungkin tak akan pernah dapat terlupa
Dan hatiku berkata
Selamat Jalan kekasih
Manis yang berujung perih
Kisah yang sungguh terlalu indah
Kini semua berakhir sudah
Selamat Jalan kekasih
Walau teramat sangat perih
Namun aku pasti coba
Untuk jalani semua
Tiba-tiba saja ingat lagu ini waktu ngunci pintu kos. Lagu galau jaman dahulu kala oleh The Rain. Hehehehe.. :)

Ketika Nama Saya Jadi Tambah Panjang :)

Original Post 8 April 2012

Nama saya itu sudah panjang dan menjadi panjang di link berikut:
Ora opo-opo, nama saya jadi panjang sendiri, malah lebih asyik. Hehehehe..

Tidak!

Original Post 3 April 2012

Dari awal saya janji untuk tidak nge-blog soal kerjaan dalam arti mengeluh. Sebenarnya tidak tertahankan sih, bukan mengeluh loh, tapi membandingkan :)
Banyak kasus, seseorang hanya tahan hitungan bulan di company kedua-nya. Kenapa?
Kalau di awal, kita masih unyu, yang penting kerja! Dan ketika sudah settle, dipercaya ini itu, kita ingin lebih lalu pindah. Dan ketika pindah, yang terbayang adalah kemapanan di tempat lama? Hasilnya? Mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Itu yang saya berusaha tidak lakukan di blog ini. Mengeluh sih pasti ada, dan itu paralel dengan syukur.
Sebuah pilihan tidak selalu berkonsekuensi bagus sempurna atau jelek seutuhnya kan? Balance lah..
Yang pasti ada sisi positif dan negatif di tempat yang lama dan yang baru. Ada pelajaran baru, ada kerinduan lama.
Ah, itu biasa. Jadi mau mengeluh soal pekerjaan? Tidak ah! :)

Komunikasi

Original Post 25 Juni 2012

“Ketika semua media komunikasi ada, kenapa komunikasi masih saja tidak bisa terjalin dengan baik?”
Kutipan yang diambil dari salah satu twit yang nongol di TL saya ini setidaknya merefleksikan sebuah keisengan, atau mungkin penyalahgunaan social media, dalam berkomunikasi.
Jadi ceritanya kemarin itu saya melakukan komunikasi via telepon, via message facebook, via direct message twitter, via Whatsapp, dan terakhir via Yahoo Messanger.
See? Lima jenis percakapan, pada saat yang sama, dan yang paling ra cetho adalah fakta bahwa saya melakukannya dengan orang yang sama.
Yah, ini sebatas percobaan belaka sih.
Apa yang terjadi?
Satu hal, melelahkan. Okelah ada teknologi headset yang memungkinkan tangan saya berkeliaran, ditunjang HP yang bisa disambi beraktivitas lain selain bertelepon ria, plus sebuah laptop menyala dengan koneksi yang lumayan. Tapi nyata-nyata, hal itu membuat saya lelah.
Yak, social media telah menjelma menjadi sarana untuk berkomunikasi. Bahkan kini orang mau menikah bisa mengundang via FB saja. Saya beberapa kali menghadiri pernikahan tanpa ada undangan fisik, hanya invitation via FB. Atau lagi, saya bisa ikut futsal dengan Raditya Dika karena ada event #futsalbarengpembaca yang diinformasikan via Twitter.
Itulah komunikasi, ketika informasi disampaikan.
Nah, perkaranya adalah bagaimana mengelola, menyampaikan, dan menyikapi dengan bijak.
Jadi begini, beberapa hari yang lalu ketika sedang sibuk audit, saya dapat pesan Whatsapp dari seorang senior, meminta untuk mengecek FB. Dan disitu terpampang dengan jelas foto saya dan mbak mantan. Sebuah foto yang bahkan saya saja nggak punya. Entah apa maksud si pengunggah foto itu, tapi saya sih cuma PM dengan sopan, dan dengan sopan pula dibalas, dan foto itu disingkirkan dari dunia maya.
Ya itulah social media, ketika semua informasi bisa menjadi konsumsi sosial yang sayangnya kadang kita lupa untuk membuatnya tetap baik. Misal untuk kasus foto saya, apa susahnya PM saya dulu, minta izin? Daripada asal unggah dan kemudian menciptakan sedikit huru-hara di jaringan lain?
Secara lebih privat, ini juga saya coba resapi. Ketika saya melakukan uji coba komunikasi yang itu tadi, jadinya malah nggak fokus. Sambungan telepon malah dipenuhi oleh diam. YM pun semata-mata emote.
Apa intinya?
Jalinan komunikasi itu semata-mata intensitas pertukaran informasi pada awalnya. Namun perlahan itu menjelma menjadi sesuatu yang terkait dengan perasaan. Nah, karena itu, kadang memang ada hal-hal yang dipilih untuk tidak dikomunikasikan. Dan itu kemudian kadang yang menghambat komunikasi itu sendiri.
Riweuh ya?
Bahwa sebenar-benarnya komunikasi adalah ketika dua belah pihak menjadi saling memahami, jauh lebih dalam dari sebelumnya :)

Sunyi

Original Post 1 Juni 2012

Saya suka sunyi.
Saya sudah berdiam dalam sunyi.
Itu kenapa kalau dulu ada yang hobi ketawa ngakak di belakang saya, pasti saya lirik dengan ganas. Kadang mau saya lempar.
Itu juga kenapa printer di samping saya kala itu pengen saya banting.
Tapi, eh, saya kan nggak bisa berbuat apa-apa. Jadi terpaksa saya tidak bergerak apapun, meski saya tidak menikmatinya.
Nah..
Ketika sunyi itu sudah saya peroleh.
Ketika sunyi itu sudah menjadi jawab atas segala tanya di kepala saya.
Ketika itu pula sunyi itu (segera) lenyap.
Dan lagi, saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Ah, sunyi, kapan lagi kau tiba?

Pret Adalah Pret

Original Post 19 April 2012

Yah, pret memang pret.
Termasuk kamu.
Suka-suka kamu mau bilang apa.
Ya pret.
Tidaklah perlu kamu ide macem-macem.
Kamu itu pret kok.
Itu sama saja kamu buang energi.
Aku tidak akan dengar kamu.
Karena kamu itu pret.
Jadi lebih baik, silahkan diam saja.
Ehm, bahkan diam pun kamu salah loh pret.
Pergi aja kali ya?
Silahkan.
Salam pret.
*derita makan pedas*

Friday, December 27, 2013

1

Original Post 10 Juli 2012

Aku hendak menanti sampai waktunya, tapi suaramu sudah menyuratkan lelah. Ini pasti hari yang melelahkan buatmu, jadi ya sudah. Biarkan dirimu melayang di alam mimpi, disana sudah ada aku menunggu. Kita akan bersama-sama menjalani alam mimpi yang pastinya akan sangat indah :)
Malam berganti pagi ketika aku menulis ini. Malam yang semestinya biasa saja, tampak segera menjadi istimewa.
Yak, persis 1 bulan lalu kamu membiarkan hatimu dimasuki oleh benda absurd berwujud aku. Persis ketika angka tanggal menjelma dari satuan menjadi puluhan dengan tambahan angka 1 di depannya. Persis pula ketika jam belum menunjuk angka 1, bahkan dari 4 digit angka, baru 1 angka yang menunjuk bulan nol.
Ia menunjuk 8, itu dia, 00.08.
Siapapun tahu kalau 8 itu perkalian 2 dengan 4, dua kali empat sama dengan delapan. Lalu dua dan empat? Bukankah itu penunjuk waktu ketika kamu menemui dunia? Dan angka yang sama, delapan, menunjuk posisi bulan berada saat kamu bertemu dengan dunia. Dan bagiku, angka 8 adalah simbol keabadian, karena ia adalah angka yang tanpa putus.
Satu kali sang bulan berputar mengelilingi bumi. Mungkin itu baru singkat, tapi aku serasa sudah memiliki bumi yang dikelilingi itu.
Satu kali sang bulan menjalani orbitnya. Mungkin itu baru saja, tapi aku merasa kamu adalah orbitku.
Satu putaran sang bulan menjalani takdirnya. Entah mengapa, aku menganggap kamu adalah takdirku.
Dan bahwa aku sungguh berdoa kepada Tuhan bahwa 1 ini tidak akan semata-mata menjadi 1. Aku berdoa agar 1 ini menjelma menjadi 2, 3, dan segala angka lain yang mungkin. Atau bahkan bila ada angka yang dapat menjadi simbol untuk ‘selamanya’, aku berdoa untuk itu.
Selamat 1 kali bulan berputar. Selamat 1 kali tanggal berulang. Apapun dimulai dari 1, dan aku yakin ini sebenar-benarnya sebuah permulaan. :)
* * *
Tangan separuh kekar itu mengusap manis kepala seorang gadis yang sedang tersenyum dalam lelap. Mulut lelaki itu merapalkan deretan kata yang barusan ia tulis. Ia tak peduli kalau ini tengah malam.
Faktanya, mencintai memang tidak bisa menunggu (Ibuk, 2012).